Rabu, 25 Mei 2011

Building a Peer-to-Peer Network – Instructor Version



Background / Preparation
This lab focuses on the ability to connect two PC
s to create a simple peer-to-peer Ethernet LAN
between two workstations. The workstations will be directly connected to each other without using a
hub or switch. In addition to the Layer 1 physical and Layer 2 data link connections, the computers
must also be configured with the correct IP network settings, which is Layer 3, so that they can
communicate. A basic Category 5/5e UTP crossover cable is all that is needed. A crossover cable is
the same type that would be used as backbone or vertical cabling to connect switches together.
Connecting the PCs in this manner can be very useful for transferring files at high speed and for
troubleshooting interconnecting devices between PCs. If the two PCs can be connected with a single
cable and are able to communicate, then any networking problems are not with the PCs themselves.
Start this lab with the equipment turned off and with cabling disconnected. Work in tea
ms of two with
one person per PC. The following resources will be required:
• Two workstations with an Ethernet 10/100 NIC installed
• Several Ethernet cables, which are both straight-through and crossover, to choose from for
connecting the two workstations
Step 1 Identify the proper Ethernet cable and connect the two PCs
a. The connection between the two PCs will be accomplished using a Category 5 or 5e crossover
cable. Locate a cable that is long enough to reach from one PC to the other, and attach one end
to the NIC in each of the PCs. Be sure to examine the cable ends carefully and select only a
crossover cable.
b. What kind of cable is required to connect from NIC to NIC? Crossover
c. What is the category rating of the cable? Category 5 or 5e
d. What is the AWG wire size designation of the cable? 24 AWG
Step 2 Verify the physical connection
a. Plug in and turn on the computers. To verify the computer connections, insure that the link lights
on both NICs are lit. Are both link lights lit? They should be otherwise troubleshoot.
Step 3 Access the IP settings window
Note: Be sure to write down the existing IP settings, so that they can be restored at the end
of the lab. These include IP address, subnet mask, default gateway, and DNS servers. If the
workstation is a DHCP client, it is not necessary to record this information.
Windows 95 / 98 / Me/ users should do the following:
• Click on Start > Settings > Control Panel and then click the Network icon.
• Select the TCP/IP protocol icon that is associated with the NIC in this PC and click on
Properties.
• Click on the IP Address tab and the Gateway tab.
Windows NT / 2000 users should do the following:
• Click on Start > Settings > Control Panel and then open the Network and Dial-up
Connections folder.
• Click ad open the Local Area Connection icon.
• Select the TCP/IP protocol icon that is associated with the NIC in this PC.
• Click on Properties and click on Use the following IP address.
Windows XP users should do the following:
• Click on Start > Settings > Control Panel and then click the Network Connection icon.
• Select the Local Area Network Connection and click on Change settings of this connection.
• Select the TCP/IP protocol icon that is associated with the NIC in this PC.
• Click on Properties and click on Use the following IP address.
Windows 7 users should do the following:
• Click on Start > Control Panel > Network and Internet and then click the Network and Sharing Center.
• Select the Change Adapter Settings in the right and click the Local Area Connection Icon and click on Properties.
• Select the TCP/IP protocol icon that is associated with the NIC in this PC.
• Click on Properties and click on Use the following IP address.




Step 4 Configure TCP/IP settings for the two PCs
a. Set the IP address information for each PC according to the information in the table.
b. Note that the default gateway IP address is not required, since these computers are directly
connected. The default gateway is only required on local area networks that are connected to a
router.
Computer IP Address Subnet mask Default Gateway
PC – A 192.168.108.9 255.255.255.0 Not Required
PC – B 192.168.108.1 255.255.255.0 Not Required
Step 5 Access the Command or MS-DOS prompt
a. Use the Start menu to open the Command Prompt (MS-DOS-like) window:
Windows 95 / 98 / Me users should do the following:
Start > Programs > MS-DOS Prompt
Windows NT / 2000 users should do the following:
Start > Programs > Accessories > Command Prompt
Windows XP users should do the following:
Start > Programs > Accessories > Command Prompt
Windows 7 users should do the following:
Start >All
Programs > Accessories > Command Prompt
Step 6 Verify that the PCs can communicate
a. Test connectivity from one PC to the other by pinging the IP address of the opposite computer.
Use the following command at the command prompt.
C:>ping 192.168.108.1 (or 192.168.108.9)
b. Look for results similar to those shown below. If not, check the PC connections and TCP/IP
settings for both PCs. What was the ping result?
Results could possibly be: Sent=4 Received=3 Lost=1 (this is due to ARP)
Any other results probably indicate an error






Step 7 Confirm the TCP/IP network settings
Windows 95 / 98 / Me users should do the following:
a. Type the winipcfg command from the MS-DOS Prompt. Record the results:
Answers will vary depending on if Computer A or B is used.
Examples for Computer A
IP Address: 192.168.1.1
Subnet Mask: 255.255.255.0
Default Gateway:
Windows NT / 2000 / XP users should do the following:
b. Type the ipconfig command from the Command Prompt. Record the results:
Answers will vary depending on if Computer A or B is used.
Examples for Computer B
IP Address: 192.168.1.2
Subnet Mask: 255.255.255.0
Default Gateway:
Step 8 Restore the PCs to their original IP settings, disconnect the equipment, and store the cables

Senin, 09 Mei 2011

NASKAH PIDATO

Yang terhormat Bapak
Ibu-ibu, Bapak-bapak, hadirin dan hadirat,
Para remaja yang berbahagia,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismilahirrahmanirrahim, alhadulillahirabbil ‘aalamin, marilah kita brsama2 bersyukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya kpd kita semua, sehingga hingga detik ini kita masih diberi kesempatan yang baik untuk memperingati “Maulid Nabi” Muhammad SAW junjungan kita.

Yang kedua salam dan shalawat juga kita panjatkan kepada Nabi Besar kita Muhammad SAW, semoga beliau senantiasa di tempatkan oleh Allah di sisi-Nya sebagai umat yang memperoleh derajat yang paling tinggi di akhirat. Amin !

Hadirin yang mulia, sebagai umat Islam kita wajib menjunjung nilai-nilai agama kita, yakni nilai-nilai yang ada pada kaidah Al Qur’an dan hadits. Pada malam yang berbahagia ini, kita mencoba menggali nilai-nilai agama Islam lebih jauh lagi, khususnya yang berkaitan dengan sejarah lahirnya Nabi Besar kita Muhammad SAW.

Saya yakin bahwa kelahiran Muhammad di dunia ini merupakan salah satu petunjuk bagi kita untuk lebih meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Untuk itu tepatlah jika pada malam hari ini kita mengkaji lebih jauh tentang Muhammad sebagai Nabi akhir zaman, yang sekaligus menjadi panutan dalam memperaktekkan setiap petunjuk-petunjuknya dalam menjalani kehidupan ini hingga di akhirat nanti.

Atas nama Ketua Panitia, sekali lagi kami menyampaikan selamat datang kepada hadirin, sekaligus selamat mendengarkan ceramah agama tentang Maulid Nabi Muhammad SAW, yang Insya Allah akan segera disampaikan oleh yang terhormat Al Ustad Bapak Kyai... Terima kasih kami sampaikan pula kepada beliau yang terhormat Bapak Kyai H. ... yang malam ini berkenan hadir untuk memberikan siraman rohani kepada kami semua.

Akhirul kalam, wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

LAPORAN KEGIATAN

Tugas Kegiatan Bahasa Indonesia
Nama kegiatan : Seminar IP-TV "Turn on your television with networking"
Pembicara : Erry Rahmawan (senior service creation PT.Telkom)
Waktu dan Tempat : Sabtu 9 April 2011, Auditorium Kampus J 167

Pada seminar yang diadakan oleh BEM Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi membahas tentang IP-TV. IPTV adalah internet protocol televisi atau Broadband TV, dimana secara aman dapat mengirimkan siaran dengan kualitas yang baik atau video on demand dan konten audio melawati suatu jaringan pita lebar. IP/TV adalah suatu pengembangan baru dalam software komunikasi client-server yang mem-broadcast video yang berkualitas tinggi (setara real time full motion video secara simultan ) ke user window melalui jaringan data yang ada sekarang.
Studi mengenai televisi berbasis internet di beberapa negara menunjukkan minat masyarakat yang relatif baik terhadap layanan IPTV. Saat ini operator IPTV dengan pelanggan terbanyak adalah PCCW (Hong Kong) yang mencapai lebih dari 850.000 pelanggan, dan France Telecom (Perancis) yang mencapai 800.000 pelanggan. Operator lainnya yang sukses adalah Verizon (Amerika Serikat) dengan 600.000 pelanggan. Sementara itu, di tingkat global bisnis IPTV juga memperlihatkan pertumbuhan yang cukup pesat (lihat tabel “Global pay TV Revenue Forecast, 2008-2014). Begitupun di kawasan Asia Pacific, pertumbuhan bisnis Pay TV (termasuk IPTV) memperlihatkan kecenderungan meningkat setiap tahunnya.

Penetrasi TV berbayar di Indonesia memang masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Asia lain. Saat ini diperkirakan penetrasi TV berbayar baru 2 persen. Masih jauh di bawah Malaysia yang penetrasinya sudah mencapai 60 persen. Potensi pasar layanan TV berbayar di Indonesia cukup besar. Perumahan yang memiliki TV lebih dari 60 juta. Sedangkan jumlah televisi yang beredar di masyarakat saat ini lebih dari 120 juta unit.

Dengan adanya IPTV ini, diharapkan perkembangan teknologi informasi di Indonesia semakin maju. Di seluruh dunia, penyedia layanan IPTV yang paling laris adalah PCCW (Hong Kong) yang mempunyai pelanggan lebih dari 850.000 orang. Selain itu, di Perancis juga ada France Telecom yang mempunyai sebanyak 800.000 pelanggan. Jumlah pelanggan TV berbayar di Indonesia sangatlah rendah. Hanya sekitar dua persen dari keseluruhan.

Karena itulah Telkom menilai potensi IPTV ini cukup besar, walaupun segmen yang coba dibidik mungkin lebih ditujukan ke segmen kelas atas. Bagi Telkom, IPTV adalah langkah pertama dalam penggelaran aplikasi multimedia dengan interaktivitas tinggi di atas jaringan true broadband. IPTV menawarkan pengalaman digital yang lebih interaktif, mudah, nyaman, dan lengkap bagi pelanggan Telkom Group.

RESENSI

Category: Books
Genre: Teens
Author: Yokie Adityo
Judul : Cinta Versi Cinjun (Terbit Januari 2004)
Penerbit : C Publishing (P.T Bentang Pustaka)
Jumlah halaman : 305 halaman
Asal Buku : Dikirim penulisnya untuk Rumah Cahaya Depok

Apa yang selalu dipikirkan cowok? Tentang lawan jenisnyakah. Bisa jadi, setelah membaca novel Cinta Versi Sinjun, pembaca akan membenarkan anggapan tersebut.

Cinta Versi Sinjun (CVS), sebuah novel karya Yokie Adityo menceritakan kisah cinta Cinjun, mahasiswa hukum semester tujuh Universitas Bunga-bunga Bangsa(UBB). Cinjun jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang cewek di kios fotocopi kampus. Karena belum sempat berkenalan Cinjun memberi nama cewek ini dengan sebutan cantik. Cerita selanjutnya bergulir dengan perjuangan Cinjun yang berusaha mencari tahu, siapakah cantik sebenarnya?

Dalam pencariannya Cinjun berkenalan -bahkan sempat jadian- dengan beberapa cewek. Diantaranya Aras dan Talisa. Cinjun menduga Cantik adalah kakak Aras, karena mereka memeiliki paras yang sama. Sedangkan dengan Talisa, Cinjun sempat jadian, bahkan hampir ’nyerempet bahaya’ Selain itu ia juga dekat dengan Dista, salah satu teman cewek Sinjun yang tak sungkan bercurhat ria. Dista menjadi korban kejahatan atas nama cinta.’Mahkota suci’ hilang di tangan sang pacar. Sebuah tragedi menimpa Dista, yang memaksa Cinjun menjadi detektif dadakan.

Yokie menuturkan kekonyolan Cinjun dengan gaya catatan harian. Yokie menggunakan nama hari dan tanggal sebagai nama babnya. Setiap bab juga terdiri dari beberapa sub bab dengan judul tersendiri. Setiap sub bab bagaikan potongan puzzle yang membentuk gambar utuh, cinta Cinjun. Pembaca bisa membaca novel ini dengan cara ngemil, mengigit setiap bab sedikit demi sedikit.

Nuansa kehidupan mahasiswa hukum sempat tercium sepanjang cerita. Maklum Yokie, sendiri adalah mahasiswa FH UI angkatan 2001. Beberapa istilah perkuliahan anak hukum sempat keluar, meskipun tidak terlalu detil

Membaca CVC, pembaca akan teringat dengan Jomblonya Adithya Mulya. Banyolan dan realita yang dibangun khas cowok dan cowok banget. Kehidupan anak kos yang cekak, kecanduan Play Station, dan berbagai gaya memikat cewek dengan modal mini tapi hasil maksi.

Ada beberapa adegan cium-mencium dalam CSC. Beberapa kalimat memang dinarasikan secara seksi. Tapi jangan khawatir, cerita masih aman kok. Pembaca (apalagi cowok) nggak digiring untuk membayangkan ’yang bukan-bukan’, meskipun menjelang bab akhir pembaca akan dihadapkan sebuah konflik kekerasan seksual terhadap perempuan.

Pembaca mungkin akan bosan dengan lanturan-lanturan Yokie; berburu harta karun, menangkap harimau lepas dan semacamnya. Lepas dari masalah utama cerita. Tapi di situlah Yokie berusaha membangun kesegaran cerita. Nuansa misteri juga kental terasa di beberapa bab terakhir. Cinjun akhirnya menemukan sosok Cantik yang sesungguhnya. Sosok yang tak peernah disangka-sangka olehnya.

Jumat, 08 April 2011

Algoritma Brute Force

Definisi Brute Force
 Brute force adalah sebuah pendekatan yang lempang (straightforward) untuk memecahkan suatu masalah, biasanya didasarkan pada pernyataan masalah (problem statement) dan definisi konsep yang dilibatkan.
 Algoritma brute force memecahkan masalah dengan sangat sederhana, langsung dan dengan cara yang jelas (obvious way).
 Contoh-contoh Brute Force
1. Menghitung an (a > 0, n adalah bilangan bulat tak-negatif)

an = a x a x … x a (n kali) , jika n > 0
= 1 , jika n = 0

Algoritma: kalikan 1 dengan a sebanyak n kali
2. Menghitung n! (n bilangan bulat tak-negatif)
n! = 1 × 2 × 3 × … × n , jika n > 0
= 1 , jika n = 0
Algoritma: kalikan n buah bilangan, yaitu 1, 2, 3, …, n, bersama-sama
3. Mengalikan dua buah matrik yang berukuran n × n.
 Misalkan C = A × B dan elemen-elemen matrik dinyatakan sebagai cij, aij, dan bij
 Algoritma: hitung setiap elemen hasil perkalian satu per satu, dengan cara mengalikan dua vektor yang panjangnya n.
4. Menemukan semua faktor dari bilangan bulat n selain dari 1 dan n itu sendiri.
 Definisi: Bilangan bulat a adalah faktor dari bilangan bulat b jika a habis membagi b.
5. Mencari elemen terbesar (atau terkecil)
Persoalan: Diberikan sebuah himpunan yang beranggotakan n buah bilangan bulat. Bilangan-bilangan bulat tersebut dinyatakan sebagai a1, a2, …, an. Carilah elemen terbesar di dalam himpunan tersebut.
6. Sequential Search
Persoalan: Diberikan n buah bilangan bulat yang dinyatakan sebagai a1, a2, …, an. Carilah apakah x terdapat di dalam himpunan bilangan bulat tersebut. Jika x ditemukan, maka lokasi (indeks) elemen yang bernilai x disimpan di dalam peubah idx. Jika x tidak terdapat di dalam himpunan tersebut, maka idx diisi dengan nilai 0.
7. Bubble Sort
• Apa metode yang paling lempang dalam memecahkan masalah pengurutan? Jawabnya adalah algoritma pengurutan bubble sort.
• Algoritma bubble sort mengimplementasikan teknik brute force dengan jelas sekali.
8. Uji keprimaan
Persoalan: Diberikan sebuah bilangan bilangan bulat positif. Ujilah apakah bilangan tersebut merupakan bilangan prima atau bukan.
9. Menghitung nilai polinom secara brute force
Persoalan: Hitung nilai polinom
p(x) = anxn + an-1xn-1 + … + a1x + a0
pada titik x = x0.
Perbaikan (improve):
 Karakteristik Algoritma
Brute Force
1. Algoritma brute force umumnya tidak “cerdas” dan tidak mangkus, karena ia membutuhkan jumlah langkah yang besar dalam penyelesaiannya. Kadang-kadang algoritma brute force disebut juga algoritma naif (naïve algorithm).
2. Algoritma brute force seringkali merupakan pilihan yang kurang disukai karena ketidakmangkusannya itu, tetapi dengan mencari pola-pola yang mendasar, keteraturan, atau trik-trik khusus, biasanya akan membantu kita menemukan algoritma yang lebih cerdas dan lebih mangkus.
3. Untuk masalah yang ukurannya kecil, kesederhanaan brute force biasanya lebih diperhitungkan daripada ketidakmangkusannya.

Algoritma brute force sering digunakan sebagai basis bila membandingkan beberapa alternatif algoritma yang mangkus.
4. Algoritma brute force seringkali lebih mudah diimplementasikan daripada algoritma yang lebih canggih, dan karena kesederhanaannya, kadang-kadang algoritma brute force dapat lebih mangkus (ditinjau dari segi implementasi).

 Algoritma Brute Force (lanjutan)
 Contoh-contoh lain
1. Pencocokan String (String Matching)
Persoalan: Diberikan
a. teks (text), yaitu (long) string yang
panjangnya n karakter
b. pattern, yaitu string dengan panjang m
karakter (m < n) yang akan dicari di dalam
teks.
Carilah lokasi pertama di dalam teks yang bersesuaian dengan pattern.
Algoritma brute force:
1. Mula-mula pattern dicocokkan pada awal teks.
2. Dengan bergerak dari kiri ke kanan, bandingkan setiap karakter di dalam pattern dengan karakter yang bersesuaian di dalam teks sampai:
• semua karakter yang dibandingkan cocok atau sama (pencarian berhasil), atau
• dijumpai sebuah ketidakcocokan karakter (pencarian belum berhasil)
• Bila pattern belum ditemukan kecocokannya dan teks belum habis, geser pattern satu karakter ke kanan dan ulangi langkah 2.
Contoh 1:
Pattern: NOT
Teks: NOBODY NOTICED HIM

NOBODY NOTICED HIM
1 NOT
2 NOT
3 NOT
4 NOT
5 NOT
6 NOT
7 NOT
8 NOT
Contoh 2:
Pattern: 001011
Teks: 10010101001011110101010001

10010101001011110101010001
1 001011
2 001011
3 001011
4 001011
5 001011
6 001011
7 001011
8 001011
9 001011
2. Mencari Pasangan Titik yang
Jaraknya Terdekat
Persoalan: Diberikan n buah titik (2-D atau 3-D), tentukan dua buah titik yang terdekat satu sama lain.
 Jarak dua buah titik di bidang 2-D, p1 = (x1, y1) dan p2 = (x2, y2) adalah (rumus Euclidean):
 Algoritma brute force:
1. Hitung jarak setiap pasang titik.
2. Pasangan titik yang mempunyai jarak terpendek itulah jawabannya.
 Algoritma brute force akan menghitung sebanyak C(n, 2) = n(n – 1)/2 pasangan titik dan memilih pasangan titik yang mempunyai jarak terkecil.
Kompleksitas algoritma adalah O(n2).
 Kekuatan dan Kelemahan Metode Brute Force
 Kekuatan:
1. Metode brute force dapat digunakan untuk memecahkan hampir sebagian besar masalah (wide applicability).
2. Metode brute force sederhana dan mudah dimengerti.
3. Metode brute force menghasilkan algoritma yang layak untuk beberapa masalah penting seperti pencarian, pengurutan, pencocokan string, perkalian matriks.
4. Metode brute force menghasilkan algoritma baku (standard) untuk tugas-tugas komputasi seperti penjumlahan/perkalian n buah bilangan, menentukan elemen minimum atau maksimum di dalam tabel (list).
 Kelemahan:
1. Metode brute force jarang menghasilkan algoritma yang mangkus.
2. Beberapa algoritma brute force lambat sehingga tidak dapat diterima.
3. Tidak sekontruktif/sekreatif teknik pemecahan masalah lainnya.
 Ken Thompson (salah seorang penemu Unix) mengatakan: “When in doubt, use brute force”, faktanya kernel Unix yang asli lebih menyukai algoritma yang sederhana dan kuat (robust) daripada algoritma yang cerdas tapi rapuh.
 Exhaustive Search
Exhaustive search adalah
 teknik pencarian solusi secara solusi brute force untuk masalah yang melibatkan pencarian elemen dengan sifat khusus;
 biasanya di antara objek-objek kombinatorik seperti permutasi, kombinasi, atau himpunan bagian dari sebuah himpunan.
 Langkah-langkah metode exhaustive
search:
1. Enumerasi (list) setiap solusi yang mungkin dengan cara yang sistematis.
2. Evaluasi setiap kemungkinan solusi satu per satu, mungkin saja beberapa kemungkinan solusi yang tidak layak dikeluarkan, dan simpan solusi terbaik yang ditemukan sampai sejauh ini (the best solusi found so far).
3. Bila pencarian berakhir, umumkan solusi terbaik (the winner)
 Meskipun algoritma exhaustive secara teoritis menghasilkan solusi, namun waktu atau sumberdaya yang dibutuhkan dalam pencarian solusinya sangat besar.
 Contoh-contoh exhaustive search
1. Travelling Salesperson Problem (TSP)
 Persoalan: Diberikan n buah kota serta diketahui jarak antara setiap kota satu sama lain. Temukan perjalanan (tour) terpendek yang melalui setiap kota lainnya hanya sekali dan kembali lagi ke kota asal keberangkatan.
 Persoalan TSP tidak lain adalah menemukan sirkuit Hamilton dengan bobot minimum.
 Algoritma exhaustive search untuk persoalan TSP:
1. Enumerasikan (list) semua sirkuit Hamilton dari graf lengkap dengan n buah simpul.
2. Hitung (evaluasi) bobot setiap sirkuit Hamilton yang ditemukan pada langkah 1.
3. Pilih sirkuit Hamilton yang mempunyai bobot terkecil.
 Contoh 4:
TSP dengan n = 4, simpul awal = a
 Untuk n buah simpul semua rute perjalanan yang mungkin dibangkitkan dengan permutasi dari n – 1 buah simpul.
 Permutasi dari n – 1 buah simpul adalah
(n – 1)!
 Pada contoh di atas, untuk n = 6 akan terdapat

(4 – 1)! = 3! = 6

buah rute perjalanan.
 Jika diselesaikan dengan metode exhaustive search, maka kita harus mengenumerasi sebanyak (n – 1)! buah sirkuit Hamilton, menghitung setiap bobotnya, dan memilih sirkuit Hamilton dengan bobot terkecil.
 Kompleksitas waktu algoritma exhaustive search untuk persoalan TSP sebanding dengan (n – 1)! dikali dengan waktu untuk menghitung bobot setiap sirkuit Hamilton.
 Menghitung bobot setiap sirkuit Hamilton membutuhkan waktu O(n), sehingga kompleksitas waktu algoritma exhaustive search untuk persoalan TSP adalah O(n × n!).
 Perbaikan: setengah dari rute perjalanan adalah hasil pencerminan dari setengah rute yang lain, yakni dengan mengubah arah rute perjalanan
1 dan 6
2 dan 4
3 dan 5
 maka dapat dihilangkan setengah dari jumlah permutasi (dari 6 menjadi 3).
 Ketiga buah sirkuit Hamilton yang dihasilkan adalah seperti gambar di bawah ini:
 Dengan demikian, untuk graf dengan n buah simpul, kita hanya perlu mengevaluasi sirkuit Hamilton sebanyak
(n – 1)!/2 buah.
 Untuk ukuran masukan yang besar, algoritma exhaustive search menjadi sangat tidak mangkus.
 Pada persoalan TSP misalnya, untuk jumlah simpul n = 20 akan terdapat (19!)/2 = 6 ´ 1016 sirkuit Hamilton yang harus dievaluasi satu per satu.
 Sayangnya, untuk persoalan TSP tidak ada algoritma lain yang lebih baik daripada algoritma exhaustive search.
 Jika anda dapat menemukan algoritma yang mangkus untuk TSP, anda akan menjadi terkenal dan kaya! Algoritma yang mangkus selalu mempunyai kompleksitas waktu dalam orde polinomial.
2. 1/0 Knapsack
 Persoalan: Diberikan n buah objek dan sebuah knapsack dengan kapasitas bobot K. Setiap objek memiliki properti bobot (weigth) wi dan keuntungan(profit) pi.
Bagaimana memilih memilih objek-objek yang dimasukkan ke dalam knapsack sedemikian sehingga memaksimumkan keuntungan. Total bobot objek yang dimasukkan ke dalam knapsack tidak boleh melebihi kapasitas knapsack.
 Persoalan 0/1 Knapsack dapat kita pandang sebagai mencari himpunan bagian (subset) dari keseluruhan objek yang muat ke dalam knapsack dan memberikan total keuntungan terbesar.
 Solusi persoalan dinyatakan sebagai vektor n-tupel:
X = {x1, x2, …, xn}
xi = 1 jika objek ke-i dimasukkan ke
dalam knapsack,
xi = 0 jika objek ke-i tidak
dimasukkan.
Formulasi secara matematis:
 Algoritma exhaustive search untuk persoalan 0/1 Knapsack:
1. Enumerasikan (list) semua himpunan
bagian dari himpunan dengan n objek.
2. Hitung (evaluasi) total keuntungan dari
setiap himpunan bagian dari langkah 1.
3. Pilih himpunan bagian yang memberikan
total keuntungan terbesar.
 Contoh: n = 4.
w1 = 2; p1 = 20
w2 = 5; p2 = 30
w3 = 10; p3 = 50
w4 = 5; p4 = 10
Kapasitas knapsack K = 16
Langkah-langkah pencarian solusi 0/1 Knapsack secara exhaustive search dirangkum dalam tabel di bawah ini:
 Berapa banyak himpunan bagian dari sebuah himpunan dengan n elemen? Jawabnya adalah 2n.
Waktu untuk menghitung total bobot objek yang dipilih = O(n)
Sehingga, Kompleksitas algoritma exhaustive search untuk persoalan 0/1 Knapsack = O(n. 2n).
 TSP dan 0/1 Knapsack, adalah contoh persoalan eksponensial. Keduanya digolongkan sebagai persoalan NP (Non-deterministic Polynomial), karena tidak mungkin dapat ditemukan algoritma polinomial untuk memecahkannya.
 Exhaustive Search
dalam Bidang Kriptografi
 Di dalam bidang kriptografi, exhaustive search merupakan teknik yang digunakan penyerang untuk menemukan kunci enkripsi dengan cara mencoba semua kemungkinan kunci.
Serangan semacam ini dikenal dengan nama exhaustive key search attack atau brute force attack.
 Contoh: Panjang kunci enkripsi pada algoritma DES (Data Encryption Standard) = 64 bit.
Dari 64 bit tersebut, hanya 56 bit yang digunakan (8 bit paritas lainnya tidak dipakai).
 Jumlah kombinasi kunci yang harus dievaluasi oleh pihak lawan adalah sebanyak
(2)(2)(2)(2)(2) … (2)(2) = 256 =
7.205.759.403.7927.936
 Jika untuk percobaan dengan satu kunci memerlukan waktu 1 detik, maka untuk jumlah kunci sebanyak itu diperlukan waktu komputasi kurang lebih selama 228.4931.317 tahun!
 Meskipun algoritma exhaustive search tidak mangkus, namun –sebagaimana ciri algoritma brute force pada umumnya– nilai plusnya terletak pada keberhasilannya yang selalu menemukan solusi (jika diberikan waktu yang cukup).
 Mempercepat Algoritma Exhaustive Search
 Algoritma exhaustive search dapat diperbaiki kinerjanya sehingga tidak perlu melakukan pencarian terhadap semua kemungkinan solusi.

 Salah satu teknik yang digunakan untuk mempercepat pencarian solusi adalah teknik heuristik (heuristic).
 Teknik heuristik digunakan untuk mengeliminasi beberapa kemungkinan solusi tanpa harus mengeksplorasinya secara penuh. Selain itu, teknik heuristik juga membantu memutuskan kemungkinan solusi mana yang pertama kali perlu dievaluasi.
 Heuristik adalah seni dan ilmu menemukan (art and science of discovery).
Kata heuristik diturunkan dari Bahasa Yunani yaitu “eureka” yang berarti “menemukan” (to find atau to discover).
 Matematikawan Yunani yang bernama Archimedes yang melontarkan kata "heureka", dari sinilah kita menemukan kata “eureka” yang berarti “I have found it.”
 Heuristik berbeda dari algoritma karena heuristik berlaku sebagai panduan (guideline), sedangkan algoritma adalah urutan langkah-langkah penyelesaian.
 Heuristik mungkin tidak selalu memberikan hasil yang diinginkan, tetapi secara ekstrim ia bernilai pada pemecahan masalah.
 Heuristik yang bagus dapat secara dramatis mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dengan cara mengeliminir kebutuhan untuk mempertimbangkan kemungkinan solusi yang tidak perlu.
 Heuristik tidak menjamin selalu dapat memecahkan masalah, tetapi seringkali memecahkan masalah dengan cukup baik untuk kebanyakan masalah, dan seringkali pula lebih cepat daripada pencarian solusi secara lengkap.
 Sudah sejak lama heuristik digunakan secara intensif di dalam bidang intelijensia buatan (artificial intelligence).
 Contoh penggunaan heuristik untuk mempercepat algoritma exhaustive search
Contoh: Masalah anagram. Anagram adalah penukaran huruf dalam sebuah kata atau kalimat sehingga kata atau kalimat yang baru mempunyai arti lain.
Contoh-contoh anagram (semua contoh dalam Bahasa Inggris):
lived ® devil
tea ® eat
charm ® march
 Bila diselesaikan secara exhaustive search, kita harus mencari semua permutasi huruf-huruf pembentuk kata atau kalimat, lalu memerika apakah kata atau kalimat yang terbentuk mengandung arti.
 Teknik heuristik dapat digunakan untuk mengurangi jumlah pencarian solusi. Salah satu teknik heuristik yang digunakan misalnya membuat aturan bahwa dalam Bahasa Inggris huruf c dan h selalu digunakan berdampingan sebagai ch (lihat contoh charm dan march), sehingga kita hanya membuat permutasi huruf-huruf dengan c dan h berdampingan. Semua permutasi dengan huruf c dan h tidak berdampingan ditolak dari pencarian.

Contoh algoritma pencocokkan string
Algoritma-algoritma pencocokkan string dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian menurut arah pencariannya.
Tiga kategori itu adalah :
• Dari arah yang paling alami, dari kiri ke kanan, yang merupakan arah untuk membaca, algoritma yang termasuk kategori ini adalah:
1. Algoritma Brute Force
2. Algoritma dari Morris dan Pratt, yang kemudian dikembangkan oleh Knuth, Morris, dan Pratt
• Dari kanan ke kiri, arah yang biasanya menghasilkan hasil terbaik secara praktikal, contohnya adalah:
1. Algoritma dari Boyer dan Moore, yang kemudian banyak dikembangkan, menjadi Algoritma turbo Boyer-Moore, Algoritma tuned Boyer-Moore, dan Algoritma Zhu-Takaoka;
• Dan kategori terakhir, dari arah yang ditentukan secara spesifik oleh algoritma tersebut, arah ini menghasilkan hasil terbaik secara teoritis, algoritma yang termasuk kategori ini adalah:
1. Algoritma Colussi
2. Algoritma Crochemore-Perrin
Algoritma brute force dalam pencarian string
Algoritma brute force merupakan algoritma pencocokan string yang ditulis tanpa memikirkan peningkatan performa. Algoritma ini sangat jarang dipakai dalam praktek, namun berguna dalam studi pembanding dan studi-studi lainnya.
Cara kerja
Secara sistematis, langkah-langkah yang dilakukan algoritma brute force pada saat mencocokkan string adalah:
1. Algoritma brute force mulai mencocokkan pattern pada awal teks.
2. Dari kiri ke kanan, algoritma ini akan mencocokkan karakter per karakter pattern dengan karakter di teks yang bersesuaian, sampai salah satu kondisi berikut dipenuhi:
1. Karakter di pattern dan di teks yang dibandingkan tidak cocok (mismatch).
2. Semua karakter di pattern cocok. Kemudian algoritma akan memberitahukan penemuan di posisi ini.
3. Algoritma kemudian terus menggeser pattern sebesar satu ke kanan, dan mengulangi langkah ke-2 sampai pattern berada di ujung teks.
Berikut adalah Algoritma brute force yang sedang bekerja mencari string:

Pseudocode
Pseudocode algoritma brute force ini:
procedure BruteForceSearch(
input m, n : integer,
input P : array[0..n-1] of char,
input T : array[0..m-1] of char,
output ketemu : array[0..m-1] of boolean
)

Deklarasi:
i, j: integer

Algoritma:
for (i:=0 to m-n) do
j:=0
while (j < n and T[i+j] = P[j]) do
j:=j+1
endwhile
if(j >= n) then
ketemu[i]:=true;
endif
endfor

Rabu, 06 April 2011

SUBNETTING PADA KELAS C

Dalam kasus ini saya akan membahas tentang proses subnetting pada kelas C, dimana IP publiknya 192.168.1.0 akan dibagi untuk 5 network. Langkah-langkah yang harus kita lakukan adalah sebagai berikut :
1. Kita tuliskan subnet mask dari kelas C terlebih dahulu, kemudian kita konversikan kedalam bilangan biner. Seperti di bawah ini :

N N N H
255 255 255 0 Subnet Mask Kelas C
11111111 11111111 11111111 00000000 Konversi ke biner

2. Untuk menentukan subnet_mask_id dari host IP, kita perlu meminjam digit dari host IP untuk membuat subnet_id nya.
3. Untuk menentukan jumlah subnetwork, kita menggunakan rumus POWER OF TWO :

2n – 2 = jumlah subnetwork

4. Perhitungan subnetworknya adalah sebagi berikut :

2n – 2 = 5
2n = 7
22 < 2n < 23
n = 3 karena 2n lebih dekat ke 23

5. Angka 3 pada nilai n dalam perhitungan subnetwork di atas menunjukkan nilai digit yang dipinjam dari host_id.
6. Kemudian kita tuliskan lagi subnet mask dari kelas dengan nilai binernya yang kita urutkan berdasarkan perhitungan subnetwork yang telah kita lakukan. Pada nilai biner untuk host kita ambil 3 digit dari belakang karena nilai digit yang kita pinjam dari host_id berjumlah 3 digit. Penjabarannya seperti di bawah ini :








1. Tentukan subnet_id terakhir (broadcast_id). Untuk melihat broadcast_id, kita lihat angka decimal subnet berikutnya dikurang 1. Id awal merupakan subnet_id sedangkan Id akhir merupakan broadcast_id. Kita dapat tuliskan seperti di bawah ini :

0 1 2 …. 31

32 33 34 …. 63

64 65 66 …. 95

96 97 98 …. 127

128 129 130 …. 159

160 161 162 …. 171

172 173 174 …. 223

224 225 226 …. 255

8. Untuk menentukan valid host kita ambil host_id yang ada diantara subnet_id dan broadcast_id. Seperti di bawah ini :

0 1 2 …. 31

32 33 34 …. 63

64 65 66 …. 95

96 97 98 …. 127

128 129 130 …. 159

160 161 162 …. 171

172 173 174 …. 223

224 225 226 …. 255

VALID ID







Minggu, 09 Januari 2011

BAHASA INDONESIA JILID 3

Departemen Komunikasi dan Informatika mengembangkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Daerah yang disebut e-Province. Aplikasi ini memungkinkan bagi pemerintah provinsi untuk mengintegrasikan data dari seluruh kabupaten/kota di wilayah mereka.
Menurut Direktur e-Government Depkominfo Herry Abdul Azis, pihaknya saat ini sedang mengembangkan berbagai macam aplikasi e-Government untuk digunakan oleh instansi pemerintah daerah setingkat Provinsi. Ada 14 aplikasi yang telah selesai dan siap diimplementasikan. ke-14 aplikasi tersebut telah saling terintegrasi satu dengan yang lain. Sehingga, duplikasi data tidak lagi terjadi. Namun, Herry mengakui bahwa di beberapa Pemda telah menciptakan aplikasi eGov yang sektornya sama dengan yang dikembangkan oleh Depkominfo, meskipun jumlahnya beragam.

Menggunakan kata dan frasa transisi menunjukkan hubungan antar ide dan membuat makalah mudah dimengerti.
Transisi menunjukkan hubungan, baik dari kalimat yang satu ke kalimat yang lain, atau dari paragraf yang satu ke paragraf yang lain. Hal ini memang tampak seperti daftar "hubungan" yang mungkin dimiliki oleh ide-ide yang ada, diikuti oleh daftar kata dan frasa "transisi" yang mana menghubungkan ide-ide tersebut.
Tambahan:
juga, di samping itu, selanjutnya, sebagai tambahan, lagipula, lagi
Akibat:
demikian, hasilnya, akibatnya, jadi, kalau tidak, maka, oleh karena itu, demikianlah, setelah itu
Ringkasan:
bagaimanapun, bagaimanapun juga, setelah dipertimbangkan semuanya, singkatnya, ringkasnya, sebagai penutup, pada umumnya, akhirnya, jelasnya
Perbedaan dan perbandingan:
bedanya, begitu pula, sebaliknya, malahan, demikian juga, di satu sisi, pada sisi lainnya, agaknya, sama halnya, tetapi, akan tetapi, bagaimanapun juga, namun
Contoh kata transisi pada paragraf :
1. Sehingga, duplikasi data tidak lagi terjadi.
2. Namun, Herry mengakui bahwa di beberapa Pemda telah menciptakan aplikasi eGov yang sektornya sama dengan yang dikembangkan oleh Depkominfo, meskipun jumlahnya beragam.